Wanita, Perlukah Bekerja?

Beberapa hari yang lalu, saya melihat sebuah utas di sebuah media sosial yang membahas tentang alasan mengapa dia kontra dengan wanita karir yang masih bekerja ketika sudah berumahtangga.

Alasannya, karena tidak sesuai dengan ajaran-ajaran Agama Islam. Katanya, kalau wanita karir yang bekerja di zaman ini sudah tidak bisa disamakan lagi dengan Khadijah, istri Rasulullah. Pada kala itu, Khadijah berdagang untuk umat Islam. Seluruh hasil berdagangnya digunakan untuk berjihad.
Namun wanita karir masa kini, bekerja untuk dirinya sendiri. Kemudian, kata dia, itu salah.

Oke, mari kita bahas. Ini saya tulis berdasarkan opini saya yah, setiap orang memiliki pemikirannya masing-masing bukan? Jadi, saya akan bahas berdasarkan sudut pandang dan pemikiran saya.

Saat ini, saya berumur 21 tahun, dan saya adalah anak yatim yang memiliki ibu yang tidak pernah bekerja semenjak menikah. Saya akan membahas ini sebagai seorang anak yatim yang ibunya sama sekali tidak memiliki penghasilan, namun sudah terlalu tua untuk bekerja.
Ayah saya seorang pegawai IT di Mabes Polri Jakarta, sehingga ketika meninggal, ibu saya hanya mendapatkan pesangon dan bukan pensiunan. Ibu saya bukan wanita karir, hanya wanita rumah tangga biasa yang sejak menikah selalu bergantung pada penghasilan ayah saya.
Sebelum ayah saya meninggal di tahun 2009, gaji beliau memang besar. Kalau saya tidak salah ingat, mungkin sekitar 6-10 juta setiap bulannya. Nominal segitu tentu sangat besar bukan pada tahun 2009?

Ibu saya mengatur keuangan dengan sangat baik. Di luar kebutuhan pokok sehari-hari, gaji ayah tersebut ditabung dan dibelikan emas. Kemudian ketika ayah saya sakit, ibu menggunakan uang tabungan tersebut untuk membiayai pengobatan ayah saya selama 2 tahun hingga kemudian ayah saya meninggal.

Ibu saya hanya mendapatkan pesangon dari Kepolisian, dan pada saat itu, adik saya masih SD dan saya baru masuk SMP. Pada mulanya, semua baik-baik saja. Hingga akhirnya, uang pesangon ayah saya, uang tabungan, dan emas-emas yang ibu miliki mulai habis. Sedangkan kami bertiga harus tetap hidup.

Sampai sini sudah paham kan, mengapa wanita harus bekerja?

"Harusnya, yang membiayai kehidupan kalian kan, saudara laki-laki ayah anda." Kata 'orang' di media sosial yang menuliskan utas tadi.

Oh, bagaimana yah ini? Ayah saya merupakan anak pertama dari empat bersudara, dan adiknya perempuan semua. Bahkan semasa mudanya, ayah saya juga ikut membantu perekonomian keluarga supaya adik-adiknya bisa sekolah. Bagaimana ya? Apakah ada solusi untuk ibu saya?

Yang penasaran, baiklah akan saya ceritakan. Beruntunglah ibu saya, karena Aki saya di Bandung yang merupakan ayah dari pihak ibu, membantu perekonomian ibu saya dengan mengirimkan uang setiap bulannya. Kemudian Budhe saya, yang merupakan kakak kandung ibu dan bekerja sebagai guru, juga membantu dengan mengirimkan uang setiap bulannya. Beruntunglah kami karena memiliki saudara yang mulia hatinya.

Ibu memikirkan segala cara untuk memutar uang yang diberikan aki dan budhe, hingga akhirnya ibu membuka toko kelontong di rumah untuk memutar uang. Untungnya memang tidak seberapa, tapi lumayanlah untuk menambah penghasilan.
Dan sebagai ibu...oh tentu saja ibu saya sedih, karena tidak bisa memberikan saya sangu yang banyak ketika bersekolah. Tidak bisa memberikan saya sepatu bermerk untuk dipakai. Tidak bisa membelikan baju baru setiap lebaran, tidak pernah membelikan pakaian mahal, dan tidak bisa memberikan saya uang lebih untuk sekedar 'menongkrong' bersama teman-teman saya.

Jadi, apakah pikiran kalian sudah terbuka?

Jujur saja, saya ingin menjadi wanita karir ketika sudah lulus kuliah sampai memiliki anak nanti. Dan ketika sudah memiliki anak, saya ingin menjadi ibu rumah tangga saja agar bisa merawat anak saya 100%. Wah, nanti sama saja dengan ibu anda dong?
Oh, tentu tidak hehe. Uang yang saya hasilkan ketika menjadi wanita karir, sebagian saya berikan untuk ibu saya, dan sebagian saya tabung. Mungkin saya masih terlalu dini untuk membicarakan hal ini karena saat ini saya baru tiga bulan bekerja. Namun saya punya cita-cita, nanti ketika saya sudah tidak bekerja, saya harus punya investasi jangka panjang yang bisa saya gunakan di kemudian hari. Contohnya, saya bisa memiliki kos-kosan, atau ruko yang disewakan, atau rumah yang dikontrakkan untuk membantu penghasilan suami saya, dan masih banyak lagi. Mungkin terdengar sulit untuk saat ini, tapi tidak ada salahnya kan merancang masa depan?
Toh saya punya teman yang ibunya hanya ibu rumah tangga, namun tetap memiliki penghasilan karena beliau memiliki ruko yang disewakan dan sebuah guest house, hehe.
Atau mungkin, memiliki saham di sebuah perusahan?
Entahlah, hehe.
Bagi wanita yang lebih memilih bekerja setelah berumahtangga, ya monggo. Ndak papa, itu keputusan kalian. Asalkan tetap atas izin dan ridho suami yah, dan sudah dibicarakan baik-baik tentang mengurus anak nantinya. Bisa dititipkan ke neneknya, atau kepada pengasuh yang dipercaya.
Apapun nama dan usahanya, wanita setelah menikah tetap harus berpenghasilan, tapi harus tetap halal yaah hehe. Bukan untuk diri sendiri kok, bukan. Tapi untuk membantu keluarga kalian juga. Di saat suami anda sedang tidak memiliki banyak uang namun anak minta dibelikan ini itu, sebagai ibu tentu kalian sedih kan apabila tidak bisa menuruti keinginan anak kalian. Beda cerita ketika kalian memiliki penghasilan sendiri dan tetap bisa membantu suami membelikan barang yang diinginkan anak hehe.
Begitu ya?
Saya membagi pengalaman ini karena selama 10 tahun saya hidup, saya selalu melihat ibu saya bersedih ketika tidak mampu membelikan barang yang saya inginkan. Dan ketika dewasa ini, saya mengerti apa yang harus dilakukan hehe.
Terimakasih sudah membaca 😇 


With love, Novi.


Komentar

  1. Sangat memotivasi sekali dan
    Sangat bisa membuka pemikiran. 👍👍

    Ditunggu cerita selanjutnya mbak

    BalasHapus
  2. MasyaAllah, semoga selalu diridhoi Allah

    BalasHapus

Posting Komentar