Tidak Tahu Judulnya Apa
Sebelum membaca ini, lupakan sejenak tentang perjanjian suami dan istri di dalam pernikahan tentang hal keuangan, perihal pekerjaan, dan siapa yang bekerja.
Beberapa waktu belakangan ini, saya sering terpikirkan suatu hal.
Apabila seorang istri berpendidikan tinggi memilih menjadi ibu rumah tangga, sering kali ia dielu-elukan dan dipuji-puji. Namun apabila seorang istri berpendidikan tinggi memilih melanjutkan kariernya, orang-orang menganggap itu adalah hal biasa.
Walapun keduanya tetap memiliki sisi "buruk" dan serba salah di mata orang-orang, seperti:
"Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya menjadi ibu rumah tangga?"
atau,
"Ibu rumah tangga kok ngejar karier, suami dan anaknya tuh diurusin.."
Tetapi tetap saja, saya merasa lebih banyak mendengar pujian tentang:
"Keren banget sih dia, dia dulu S3 loh di luar negeri, tapi sekarang milih jadi ibu rumah tangga karena ingin mendedikasikan waktunya buat suami dan anak."
daripada,
"Keren banget ya dia, meskipun aslinya pingin jadi ibu rumah tangga, tapi dia mau dan harus bekerja untuk membantu keluarga dan suaminya."
Iya, tidak?
Mungkin masih banyak orang yang berpikiran bahwa ketika seorang istri memilih menjadi wanita karier, hal tersebut merupakan keinginannya.
"Iyalah dia enggak mau ngelepas karier dan jabatannya, orang udah nyaman di posisi itu."
Padahal...
Percayalah, di luar sana banyak sekali istri yang ingin menjadi ibu rumah tangga, tetapi keadaan menuntut dia untuk menjadi wanita karier.
Ibu rumah tangga yang bekerja di rumahpun sering kali mendapat cemooh, seperti:
"Gaji suaminya kurang yah, kok jualan dari rumah sih? Gaji suaminya gak cukup yah, kok jualan di status Whatsapp sih?"
Padahal....
Dia juga ingin membantu suami dan anaknya. Bukan masalah cukup tidaknya uang, tapi dalam rumah tangga, istri mana sih yang tidak ingin membantu suaminya?
Semangat untuk para ibu di dunia ini.. ibu rumah tangga dan ibu yang bekerja, surga tetap di telapak kaki kalian.
Komentar
Posting Komentar