from the bottom of my heart




Sebagai seorang anak sulung perempuan yang kehilangan sosok Ayah di usia dua belas tahun karena dipanggil oleh Allah, juga sebagai seorang anak kecil yang pada saat itu harus menerima kenyataan bahwa sang Ibu hanyalah ibu rumah tangga dan Alm. Ayah sama sekali tidak meninggalkan uang pensiunan tiap bulan, apalagi dengan warisan yang berlimpah, hidup di kota terbesar kedua di Provinsi Jawa Timur sangatlah berat.

Ya, setidaknya berat menurutku, karena kadar berat tiap orang sudah pasti berbeda.
Hidupku berubah seratus delapan puluh derajat.
Banyak sekali yang aku pikirkan dan rasakan.

Aku ingin seperti teman-temanku yang bisa belajar dengan tenang.
Sedangkan ketika aku belajar, aku harus memikirkan bagaimana caranya mendapatkan nilai yang bagus agar bisa mendapatkan pekerjaan yang halal dan layak untuk membantu perekonomian keluarga.
Aku ingin seperti teman-temanku yang bisa ikut bimbingan belajar di luar sekolah.
Sedangkan untuk makan sehari-hari saja Ibuku kesusahan, sehingga aku harus belajar sendirian.
Aku ingin seperti teman-temanku yang memiliki sepatu dan tas yang bagus serta nyaman.
Sedangkan aku baru bisa membelinya ketika ada saudara yang memberi uang jajan, itupun aku harus mengumpulkannya secara perlahan.

Aku ingin seperti teman-temanku yang ketika sudah bekerja, langsung bisa membeli handphone baru, membeli kendaraan baru, atau mencicil membeli rumah.
Sedangkan keuanganku baru bisa stabil setelah empat tahun bekerja.
Banyak sekali kebutuhan kuliah adik dan kebutuhan di rumah yang harus dipenuhi dan disediakan.
Belum lagi banyaknya tuntutan dari orang sekitar.

Aku ingin seperti orang lain yang didukung penuh oleh kedua orang tuanya.
Aku ingin makan malam bersama keluarga yang lengkap, pergi liburan, kemudian mengambil foto bersama.
Hal-hal seperti itu tidak akan pernah bisa aku dapatkan.
Dan terkadang, semua hal itu membuatku sulit untuk bersyukur dan merasa lelah setiap harinya.
Aku lebih sering menyalahkan keadaan dan putus asa dalam menjalani kehidupan.
Bahkan aku pernah ada di titik sangat ingin menyerah.

Aku rindu Ayahku, tapi jika aku pergi, Ibuku pasti menangis.

Namun, semua berubah ketika dia datang.
Dia benar-benar bisa membuatku merasakan arti bersyukur dan cukup yang sesungguhnya.
Dia satu-satunya orang yang sanggup membuatku merasa bahwa pencapaianku selama ini sungguh luar biasa.
Dia satu-satunya orang yang bersyukur dengan keadaanku yang seperti ini, apa adanya.
Dia satu-satunya orang di luar keluargaku yang bangga dengan apa yang kulakukan.

Dengannya, aku merasa cukup dan aku merasa tidak butuh validasi dari siapapun.
Dengannya, aku sanggup bersyukur setiap hari, bahkan dengan hal-hal kecil yang terjadi di hidupku.
Dengannya, aku merasa kembali menemukan jati diriku yang telah hilang selama tiga belas tahun.
Dengannya, aku merasa penuh.

Terima kasih karena telah menemukanku.

Aku sangat, sangat, sangat bersyukur karena bisa sampai di titik ini bersamamu.

From the bottom of my heart, iloveyou.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berat

Tulisan Hati Seorang Ibu yang Bayinya Memilih Surga

Wanita, Perlukah Bekerja?