Postingan

Berat

  Siang itu, ketika jam istirahat di kantor, tiba-tiba aku terpikirkan untuk mencari sebuah momen lewat archive story di Instagram. Aku melihat satu persatu, dimulai dari tanggal pertama aku membuat story . Kemudian setelah menemukan momen yang aku cari, bukannya menutup kembali aplikasi Instagram, aku malah melanjutkan melihat momen-momen berikutnya. Sampai pada akhirnya, aku berhenti di sebuah story . Story menyakitkan yang aku post di close friend . Story menyakitkan yang aku post setelah satu bulan aku menjalin hubungan dengan seseorang. Aku menuliskan, " Dari sekian banyak orang, mengapa hubunganku berat sekali? " Aku tahu dan aku sadar, sejak hari pertama menjalani hubungan, ini akan menjadi hubungan yang berat dan melelahkan. Namun aku ingin mencoba berusaha. Setidaknya, aku bisa tahu hasilnya apabila aku mencoba menjalaninya, bukan? Rasa menyesal karena telah mencoba, tentu tidak akan sebesar rasa menyesal karena tidak mencoba . Dan setelah menjalanin...

Tentang Doa

Kalau berdoa kepada Allah, selain minta agar doanya dikabulkan oleh-Nya, jangan lupa berdoa tentang satu hal ini juga ya... Berdoalah meminta agar dilapangkan hati kita, agar diberikan keikhlasan dan kesabaran, apabila doa tersebut belum dikabulkan oleh Allah, atau bukan yang terbaik untuk kita, atau belum sesuai dengan Ketetapan-Nya.. Karena, berdoa itu mudah. Meminta kepada Allah itu mudah. Yang sulit adalah bagaimana kita ikhlas dan menjadi sabar... menanti semua petunjuk dan jawaban yang terbaik dari-Nya. Karena selama ini...aku hanya berdoa, meminta agar keinginanku dikabulkan. Tetapi tidak meminta agar dilapangkan hati ketika apa yang diminta belum sesuai dengan kehendak. Sehingga.. sedihnya luar biasa. Hehehe..

Tidak Tahu Judulnya Apa

Sebelum membaca ini, lupakan sejenak tentang perjanjian suami dan istri di dalam pernikahan tentang hal keuangan, perihal pekerjaan, dan siapa yang bekerja.  Beberapa waktu belakangan ini, saya sering terpikirkan suatu hal. Apabila seorang istri berpendidikan tinggi memilih menjadi ibu rumah tangga, sering kali ia dielu-elukan dan dipuji-puji. Namun apabila seorang istri berpendidikan tinggi memilih melanjutkan kariernya, orang-orang menganggap itu adalah hal biasa. Walapun keduanya tetap memiliki sisi "buruk" dan serba salah di mata orang-orang, seperti: " Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya menjadi ibu rumah tangga?" atau, "Ibu rumah tangga kok ngejar karier, suami dan anaknya tuh diurusin.." Tetapi tetap saja, saya merasa lebih banyak mendengar pujian tentang: "Keren banget sih dia, dia dulu S3 loh di luar negeri, tapi sekarang milih jadi ibu rumah tangga karena ingin mendedikasikan waktunya buat suami dan anak." daripada, ...

untuk kalian, yang menyandang gelar "Mahasiswa"

Tulisan ini saya dedikasikan untuk mahasiswa-mahasiswi yang sedang menuntut ilmu, dimanapun kalian berada. Jadi begini, sebelumnya mari perkenalan dulu yah hehe karena tak kenal maka tak sayang bukan? Saya Novi Fadhilah Rahma, alumni S1 Jurusan Teknik Pengairan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Angkatan 2015. Berarti sudah hampir empat tahun yang lalu, ketika saya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Universitas Brawijaya pada 1 September 2015. Saya adalah salah satu orang yang beruntung karena bisa mengenyam pendidikan sampai di bangku kuliah. Tidak semua orang bisa merasakan apa yang saya rasakan- duduk di bangku kuliah, bertemu dengan profesor dan dosen, melakukan praktikum yang luar biasa melelahkan namun menyenangkan karena memiliki tantangan tersendiri- tentu hanya segilintir orang yang bisa merasakan itu semua. Dan saya merasa sangat bersyukur, karena saya termasuk di dalam “segelintir orang” tersebut. Tiga setengah tahun sudah saya berada di jurusan ini ketika...

Wanita, Perlukah Bekerja?

Beberapa hari yang lalu, saya melihat sebuah utas di sebuah media sosial yang membahas tentang alasan mengapa dia kontra dengan wanita karir yang masih bekerja ketika sudah berumahtangga. Alasannya, karena tidak sesuai dengan ajaran-ajaran Agama Islam. Katanya, kalau wanita karir yang bekerja di zaman ini sudah tidak bisa disamakan lagi dengan Khadijah, istri Rasulullah. Pada kala itu, Khadijah berdagang untuk umat Islam. Seluruh hasil berdagangnya digunakan untuk berjihad. Namun wanita karir masa kini, bekerja untuk dirinya sendiri. Kemudian, kata dia, itu salah. Oke, mari kita bahas. Ini saya tulis berdasarkan opini saya yah, setiap orang memiliki pemikirannya masing-masing bukan? Jadi, saya akan bahas berdasarkan sudut pandang dan pemikiran saya. Saat ini, saya berumur 21 tahun, dan saya adalah anak yatim yang memiliki ibu yang tidak pernah bekerja semenjak menikah. Saya akan membahas ini sebagai seorang anak yatim yang ibunya sama sekali tidak memiliki penghasilan, na...

Ucapan Maaf dan Terimakasih, Perlukah?

Oke. Kali ini saya tidak akan menceritakan tentang pengalaman saya, namun di tulisan kali ini, saya ingin berbagi tentang opini dan pemikiran saya hehe. Di zaman sekarang ini, masih pentingkah ucapan maaf dan terimakasih? Entah mengapa, semakin saya dewasa, saya semakin jarang mendengar orang di sekeliling saya mengucapkan kata "maaf" dan "terimakasih". Bahkan, ada teman satu jurusan saya ketika menanyakan tugas kepada saya melalu aplikasi chat Line, dia tidak mengucapkan terimakasih ketika chat nya sudah saya balas dan ketika tugas saya sudah saya fotokan. Hanya di read saja. Oke..mungkin sebagian orang akan menganggap saya baperlah-namun, apakah itu saya memang benar-benar baper? Menyebut kata baper, mengingatkan saya bahwa semenjak kata itu ada dan muncul -terbawa perasaan-, kata maaf semakin jarang diucapkan. Ketika seseorang sakit hati akan perkataan dan perlakuan orang lain, bukannya minta maaf, namun yang diucapkan " Ah elah, kamu baper doang itu ...
Halo semuaaaa. Lama tidak berjumpa hehe. Tulisan ini saya buat pada tanggal 17 Oktober 2018 di kamar saya, ketika saya sedang tidak bisa tidur padahal penyakit lambung saya sedang kumat-kumatnya hehe. Cuman ingin mengabari, bahwa blog ini aktif hehe. Setelah sekian lama saya lupa passwordnya..oke selamat menikmati :)