Postingan

24 jam dalam 7 hari

Banyak hal baik yang terjadi dalam hidupku dan aku bersyukur karenanya. Salah satu hal yang paling kusyukuri dalam hidupku adalah bertemu denganmu seorang. Merasakan jatuh cinta, bersemangat, dihargai, dan merasakan segala perasaan bahagia lainnya yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Hebatnya, setiap hari aku semakin dibuat jatuh cinta. Aku benar-benar ingin menjadi tempat terbaik untukmu di saat kau pulang. Aku ingin menjadi satu-satunya tempatmu bersandar. Aku ingin menjadi satu-satunya tempatmu bercerita dan berkeluh kesah. Aku ingin menjadi satu-satunya tempatmu menangis dan bahagia. Aku ingin menjadi seseorang yang berhak memastikan apa saja yang kau makan. Aku ingin menjadi satu-satunya orang yang bisa dimintai pendapat mengenai baju apa yang akan kau gunakan. Aku ingin menjadi seseorang yang berhak dimintai jawaban ketika sesuatu terjadi secara tidak terduga. Aku ingin mendengarkan suaramu setiap harinya. Aku ingin memandang wajahmu dan memelukmu di setiap kesem...

Suara

Bagian terberat ketika ditinggal pergi oleh seseorang yang kita sayang adalah.. kita harus tetap melanjutkan kehidupan. Apapun yang terjadi kita tetap harus melangkah, tanpanya. Mengambil napas, menghirup oksigen, berkedip, melihat lagi dunia tanpanya. Mendengarkan keramaian dunia tanpa suaranya. Bagian menyedihkan lainnya adalah, perlahan kita mulai melupakan suaranya. Alam bawah sadar kita seakan memaksa bahwa kita harus mengingat suaranya, namun nyatanya tak semudah itu otak kita bekerja. Memori-memori lama seakan tertumpuk dengan adanya kejadian yang baru dan hangat. Adakalanya kita hanya bisa mengandalkan jepretan foto dan perekam suara. Maka dari itu, aku akan selalu mengabadikan momen-momen berharga bersama orang-orang yang aku sayang. Karena aku mempunyai pengalaman menyedihkan. Perlahan aku mulai melupakan suara Ayahku yang telah tiada. Karena Ayahku pergi ketika teknologi belum semaju sekarang. Jadi aku hanya mempunyai fotonya saja, tidak dengan suaranya. Walau sudah 14 tahun...

from the bottom of my heart

Sebagai seorang anak sulung perempuan yang kehilangan sosok Ayah di usia dua belas tahun karena dipanggil oleh Allah, juga sebagai seorang anak kecil yang pada saat itu harus menerima kenyataan bahwa sang Ibu hanyalah ibu rumah tangga dan Alm. Ayah sama sekali tidak meninggalkan uang pensiunan tiap bulan, apalagi dengan warisan yang berlimpah, hidup di kota terbesar kedua di Provinsi Jawa Timur sangatlah berat. Ya, setidaknya berat menurutku, karena kadar berat tiap orang sudah pasti berbeda. Hidupku berubah seratus delapan puluh derajat. Banyak sekali yang aku pikirkan dan rasakan. Aku ingin seperti teman-temanku yang bisa belajar dengan tenang. Sedangkan ketika aku belajar, aku harus memikirkan bagaimana caranya mendapatkan nilai yang bagus agar bisa mendapatkan pekerjaan yang halal dan layak untuk membantu perekonomian keluarga. Aku ingin seperti teman-temanku yang bisa ikut bimbingan belajar di luar sekolah. Sedangkan untuk makan sehari-hari saja Ibuku kesusahan, sehingga a...

Berat

  Siang itu, ketika jam istirahat di kantor, tiba-tiba aku terpikirkan untuk mencari sebuah momen lewat archive story di Instagram. Aku melihat satu persatu, dimulai dari tanggal pertama aku membuat story . Kemudian setelah menemukan momen yang aku cari, bukannya menutup kembali aplikasi Instagram, aku malah melanjutkan melihat momen-momen berikutnya. Sampai pada akhirnya, aku berhenti di sebuah story . Story menyakitkan yang aku post di close friend . Story menyakitkan yang aku post setelah satu bulan aku menjalin hubungan dengan seseorang. Aku menuliskan, " Dari sekian banyak orang, mengapa hubunganku berat sekali? " Aku tahu dan aku sadar, sejak hari pertama menjalani hubungan, ini akan menjadi hubungan yang berat dan melelahkan. Namun aku ingin mencoba berusaha. Setidaknya, aku bisa tahu hasilnya apabila aku mencoba menjalaninya, bukan? Rasa menyesal karena telah mencoba, tentu tidak akan sebesar rasa menyesal karena tidak mencoba . Dan setelah menjalanin...

Tentang Doa

Kalau berdoa kepada Allah, selain minta agar doanya dikabulkan oleh-Nya, jangan lupa berdoa tentang satu hal ini juga ya... Berdoalah meminta agar dilapangkan hati kita, agar diberikan keikhlasan dan kesabaran, apabila doa tersebut belum dikabulkan oleh Allah, atau bukan yang terbaik untuk kita, atau belum sesuai dengan Ketetapan-Nya.. Karena, berdoa itu mudah. Meminta kepada Allah itu mudah. Yang sulit adalah bagaimana kita ikhlas dan menjadi sabar... menanti semua petunjuk dan jawaban yang terbaik dari-Nya. Karena selama ini...aku hanya berdoa, meminta agar keinginanku dikabulkan. Tetapi tidak meminta agar dilapangkan hati ketika apa yang diminta belum sesuai dengan kehendak. Sehingga.. sedihnya luar biasa. Hehehe..

Tidak Tahu Judulnya Apa

Sebelum membaca ini, lupakan sejenak tentang perjanjian suami dan istri di dalam pernikahan tentang hal keuangan, perihal pekerjaan, dan siapa yang bekerja.  Beberapa waktu belakangan ini, saya sering terpikirkan suatu hal. Apabila seorang istri berpendidikan tinggi memilih menjadi ibu rumah tangga, sering kali ia dielu-elukan dan dipuji-puji. Namun apabila seorang istri berpendidikan tinggi memilih melanjutkan kariernya, orang-orang menganggap itu adalah hal biasa. Walapun keduanya tetap memiliki sisi "buruk" dan serba salah di mata orang-orang, seperti: " Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya menjadi ibu rumah tangga?" atau, "Ibu rumah tangga kok ngejar karier, suami dan anaknya tuh diurusin.." Tetapi tetap saja, saya merasa lebih banyak mendengar pujian tentang: "Keren banget sih dia, dia dulu S3 loh di luar negeri, tapi sekarang milih jadi ibu rumah tangga karena ingin mendedikasikan waktunya buat suami dan anak." daripada, ...

untuk kalian, yang menyandang gelar "Mahasiswa"

Tulisan ini saya dedikasikan untuk mahasiswa-mahasiswi yang sedang menuntut ilmu, dimanapun kalian berada. Jadi begini, sebelumnya mari perkenalan dulu yah hehe karena tak kenal maka tak sayang bukan? Saya Novi Fadhilah Rahma, alumni S1 Jurusan Teknik Pengairan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Angkatan 2015. Berarti sudah hampir empat tahun yang lalu, ketika saya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Universitas Brawijaya pada 1 September 2015. Saya adalah salah satu orang yang beruntung karena bisa mengenyam pendidikan sampai di bangku kuliah. Tidak semua orang bisa merasakan apa yang saya rasakan- duduk di bangku kuliah, bertemu dengan profesor dan dosen, melakukan praktikum yang luar biasa melelahkan namun menyenangkan karena memiliki tantangan tersendiri- tentu hanya segilintir orang yang bisa merasakan itu semua. Dan saya merasa sangat bersyukur, karena saya termasuk di dalam “segelintir orang” tersebut. Tiga setengah tahun sudah saya berada di jurusan ini ketika...